MENGUKUR DAMPAK INOVASI GARDU PENANGKIS BAPPELITBANGDA GELAR SEMINAR INOVASI DAERAH

Setelah menerima penghargaan TOP 45 Inovasi Pelayanan Publik dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada awal November 2023 lalu, Pemerintah Daerah Bengkulu Utara melalui Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah melaksanakan Pengukuran Dampak Inovasi terhadap Kinerja Pemerintah Daerah dalam kegiatan Seminar Inovasi Daerah dengan narasumber dari Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, Bapak Antun Nastri Sidik.

Foto Kegiatan Seminar Inovasi Daerah

Kegiatan di buka oleh Bupati Bengkulu Utara yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi Bapak Burman, dan dipimpin oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah, Dr. M Dodi Hardinata. Dalam arahannya, Bupati Bengkulu Utara menginstruksikan agar para kepala OPD menggunakan hasil pengukuran dampak inovasi ini dalam pelaksanaan program dan kegiatan yang akan datang, terutama dalam program pengentasan kemiskinan.

Peserta Seminar Inovasi Kab. Bengkulu Utara Tahun 2023

Dalam kesempatan ini narasumber Antun Nastri Sidik menyampaikan bahwa bila menjadikan indikator umum daerah sebagai sasaran, maka inovasi yang dijalankan harus yang sifatnya besar, dikeroyok bersama seperti Gardu Penangkis. Model inovasi seperti ini harus dikembangkan dan dapat direplikasi ke indikator umum daerah lainnya, seperti bidang investasi, bidang pariwisata dan lainnya. Sehingga ke depan inovasi Gardu Penangkis ini dapat berkelanjutan.

Dalam pengukuran dampak inovasi Gardu Penangkis, Lembaga Administrasi Negara RI menggunakan empatbelas kriteria kemiskinan Biro Pusat Statistik, yaitu: 1) Mempunyai rumah atau luas bangunan kurang dari 8 meter2 per orang; 2) Dinding tempat tinggal menggunakan bahan murah, yaitu bambu, rumbia, kayu berkualitas rendah, atau tembok tanpa diplester; 3) Lantai tempat tinggal yang dibuat dengan bahan murah, yaitu tanah, kayu murah, ataupun dengan bamboo; 4) Hanya sanggup mengkonsumsi daging atau susu atau ayam satu minggu sekali; 5) Hanya sanggup membeli satu stel pakaian baru dalam setahun; 6) Makan hanya sekali maupun dua kali dalam sehari; 7) Tidak bisa membayar kebutuhan kesehatan, puskesmas, ataupun pergi ke dokter; 8) Sumber penghasilan hanya sebagai petani dengan luas lahan 500 m2, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, buruh tani, ataupun berbagai macam pekerjaan lainnya yang tidak bisa menghasilkan begitu banyak uang atau pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulannya; 9) Tidak mempunyai toilet atau fasilitas buang air besar; 10) Penerangan rumah tidak sanggup memakai listrik; 11) Air minum berasal dari sumur, mata air tidak terlindung, sungai, atau air hujan; 12) Bahan bakar yang digunakan untuk masak sehari-hari adalah arang, kayu, atau minyak; 13)

Pendidikan tertinggi kepala keluarga: tidak sekolah atau tamat SD atau tidak tamat SD; 14) Tidak mempunyai tabungan atau barang-barang yang mudah dijual minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit, emas, ternak, kapal motor, dan lain sebagainya.

Hasil kegiatan pengukuran dampak inovasi Gardu Penangkis berdasarkan perbandingan tingkat dampak inovasi gardu penangkis pada 14 faktor penentu kriteria miskin versi Biro Pusat Statistik dengan kesimpulan secara umum inovasi Gardu Penangkis berkontribusi dalam upaya penanganan kemiskinan pada 12 dari 14 faktor kriteria miskin versi BPS. Secara khusus: 1) Inovasi SiGampang berkontribusi pada 6 faktor kriteria miskin versi BPS; 2) Inovasi Bule Tersalai berkontribusi pada 7 faktor kriteria miskin versi BPS; 3) Inovasi Siko berkontribusi pada 1 faktor kriteria miskin versi BPS; 4) Inovasi GeAru berkontribusi pada 6 faktor kriteria miskin versi BPS; 5) Inovasi RUMKM berkontribusi pada 7 faktor kriteria miskin versi BPS; 6)Inovasi Rutilah Jadilah berkontribusi pada 5 faktor kriteria miskin versi BPS.

Sebagai penutup, Kepala Bappelitbangda Dr. M. Dodi Hardinata, S.Sos., M.Si menyatakan inovasi Gardu Penangkis akan terus dikembangkan dan berkelanjutan dengan Memperluas keterlibatan/pengintegrasian inovasi-inovasi OPD lain yang terkait dengan 14 faktor kriteria miskin, baik yang secara langsung berdampak pada kriteria miskin, maupun yang berdampak tidak langsung serta meningkatkan dukungan untuk keberlanjutan inovasi yang berkontribusi pada inovasi Gardu Penangkis. (rd)